Wednesday, January 12, 2022

Manusia atau Teknologi?

sumber : kompasiana.com

Dewasa ini, kita melihat bagaimana perkembangan teknologi informasi berkembang dengan sangat pesat. Dengan perkembangan ini, berbagai bidang juga turut menerima dampak dan mengalami perubahan. Tentunya, perubahan-perubahan ini juga menimbulkan efek positif dan negatif. Bagaimana pengaruhnya? Yuk, simak ulasan yang satu ini!

Sejak dahulu, kita menyadari betapa pentingnya pengaruh perkembangan teknologi terhadap komunikasi. Salah satunya adalah bagaimana saat ini kita dapat berkomunikasi dengan mudah dan lancar dengan bantuan telepon genggam tanpa perlu mengkhawatirkan jarak dan waktu seperti pada masa lampau. Di mana, kita harus mengandalkan tukang pos atau pengirim telegram untuk menyampaikan pesan. Sementara saat ini, kita bisa dengan mudah menyampaikan pesan secara langsung tanpa perlu menunggu lama.

Namun dewasa ini, perna teknologi semakin mengkhawatirkan banyak pihak. Pasalnya, banyak yang mulai menggeser nilai kerja manusia dengan artificial intelligent dan robot untuk menghemat biaya produksi dan efisiensi pekerjaan. Padahal, harus kita akui bahwa ada beberapa hal dari manusia yang tetap tidak dapat digantikan oleh robot.

sumber : commbox

Salah satu kasus yang cukup menggemparkan adalah wacana penggantian tenaga PNS dengan robot AI yang diharapkan oleh presiden Jokowi untuk dapat segera direalisasikan dikalangan eselon III dan eselon IV untuk dapat mempermudah birokrasi. Tentunya banyak pihak, terutama para ASN merasa keberatan dengan wacana ini. Salah satunya adalah lapangan kerja yang masih banyak dibutuhkan oleh SDM di Indonesia.

Dengan melihat wacana ini, kita dapat berkaca kepada perusahaan media sosial besar seperti Facebook dan Twitter untuk dapat mengevaluasi apakah penggunaan AI dalam tenaga pemerintahan akan efisien atau tidak. Salah satunya adalah bagaimana Facebook dikritik karena menjadi sarang penyebaran hoaks. Ini karena, Facebook mengandalkan 100% algoritma dalam penyebaran isu/berita yang ada di Facebook. Tanpa adanya admin, Facebook tidak dapat mengevaluasi ulang berita yang tersebar. Sementara, biasanya dalam media sosial, algoritma akan mendasarkan mesin pencarian atau feed pada engagement banyak orang terhadap suatu konten tertentu.

sumber : medcom.id

Pada ulasan BBC.com di tahun 2016 dalam artikel yang berjudul Krisis Penyebaran Berita Bohong di Facebook Dialami, ada sumber yang menyatakan bahwa berita bohong menyebar liar selama musim kampanye presiden Donald Trump.

"(Mark Zuckerberg) tahu, dan kami orang-orang di perusahaan tahu, bahwa berita bohong itu menyebar liar di platform kami selama musim kampanye," kata sumber.

Ini diperparah dengan keadaan  pandemi Covid-19 saat ini yang juga banyak dibumbui berita-berita hoaks yang terus tersebar di masyarakat. Dilansir dari Detik.com yang dirilis pada Juli 2021, Pemerintah AS mengkritisi platform media sosial seperti Facebook dan sejenisnya terkait penyebaran hoaks vaksin Covid-19. Menurut Presiden Biden, angka kematian naik karena misinformasi terkait vaksinasi Covid-19.

sumber : suara.com


Sementara Twitter langsung memberikan tanggapan terkait pernyataan ini dengan langsung mendatangi Surgeon General untuk membicarakan kebijakan misinformasi tersebut, Facebook masih belum memberikan tanggapannya terkait hal ini.

Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah manusia perlu digantikan 100% oleh AI, atau perlukah dikaji kembali terkait kebijakan kolaborasi antara manusia dan sistem?


Reference

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20211125062103-37-294203/heboh-robot-ai-bakal-gantikan-pns-ini-faktanya

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-37984020

https://inet.detik.com/cyberlife/d-5647683/facebook-dkk-dikritik-jadi-sarang-penyebaran-hoax-vaksin-covid-19

No comments :